Dolly adalah lokalisasi terbesar di Asia Tenggara, bahkan lebih besar dari lokalisasi Phatpong di Bangkok, Thailand. dan lokalisasi Geylang di Singapura. Bahkan pernah terjadi kontroversi untuk memasukkan Gang Dolly sebagai salah satu daerah tujuan wisata di Surabaya bagi wisata macanegara. Purnomo dan Siregar mengatakan bahwa semula kawasan Dolly adalah pekuburan Tionghoa. Baru sekitar tahun 1966 daerah itu “diserbu” para pendatang dengan menghancurkan bangunan-bangunan makam. Menurut informasi yang diperoleh dari salah seorang penduduk yang saat itu turut dalam kegiatan bongkar membongkar itu, makam dibongkar karena telah dinyatakan pemerintah daerah, makam Cina itu tertutup bagi jenazah baru, dan kerangka lama harus dipindahkan oleh ahli warisnya. Ini mengundang orang mendapat bekas makam tersebut, baik dengan membongkar bangunan makam, menggali kerangka jenazah yang ada, atau cukup hanya meratakannya saja. Selanjutnyatanah tersebut dapat diklaim oleh pemilik barunya.
Setahun kemudian, atau tepatnya pada tahun 1967, muncul seorang wanita yang katanya dulu juga merupakan pelacur bernama Dolly Khavit di kawasan yang dulunya makam Tionghoa tersebut. Ia kemudian menikah dengan seorang pelaut Belanda dan merupakan pendiri rumah pela
curan pertama di jalan yang sekarang bernama Kupang Gunung Timur I. Wisma miliknya antara lain bernama “T,” “Sul,” “NM,”dan “MR.” Tiga di antara empat wisma itu disewakan pada orang lain. Demikian asal mula nama “Dolly”. Tante Dolly mengangkat mucikari dari Kampung Cemoro Sewu dan membangun wisma bernama Barbara. Setelah itu, muncul wisma lain dan akhirnya di awal tahun 1970-an perkampungan itu berubah nama menjadi Gang Dolly.
Sebagai pencetus dan pendiri Dolly, tante Dolly terbilang sukses. Buktinya, Dolly adalah salah satu prostitusi terbesar di Asia Tenggara mengalahkan Phat Pong di Bangkok, Thailand dan Geylang di Singapura, sungguh ironis memang. Semakin lama Gang Dolly semaking dikenal masyarakat. Kondisi tersebut kemudian berpengaruh pada kuantitas pengunjung dan PSK serta Dolly juga menjelma menjadi kekuatan dan sandaran hidup bagi penduduk di sana.
Letak Geografis Dolly
Dolly atau Gang Dolly adalah nama sebuah kawasan lokalisasi pelacuran yang terletak di daerah Jarak, Pasar Kembang, Kota Surabaya, Jawa Timur. Di kawasan lokalisasi ini, wanita penghibur “dipajang” di dalam ruangan berdinding kaca mirip etalase.
Kompleks pelacuran Dolly berada di kawasan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan, Kotamadya Surabaya. Hanya sebuah jalan sepanjang kurang lebih 150 meter dengan lebih sekitar 5 meter beraspal cukup halus, hasil proyek perbaikan kampung (kampung improvement project) tahun 1977 tepatnya, komples pelacur ini berlokasi di jalan Kupang Gunung Timur I, di sebelah selatannya berbatasan dengan jalang Kupang Gunung Timur V raya. Jika jalan Tunjungan dianggap sebagai pusat atau jantung kota Surabaya, kompleks pelacuran ini hanya bias dicapai dalam waktu kurang lebih 10 menit dengan kendaraan bermotor. Rentangan antara pusat kota dengan kompleks pelacuran Dolly, ini kurang lebih 1,5 KM lokalisasi jarak perkampungan seberang Dolly memiliki luas sekitar 3 Hektar. Dolly terletak di pinggiran kota 100 meter dari pusat atau perbatasan kota yang berada pada wilayah industry. Banyak pengamat yang mengatakan bahwa daerah pinggiran kota banyak berperan pada proses migrasi.
Kompleks pelacuran Dolly inipun bias dicapai dari berbagai arah. Dari sebelah timur lewat jalan Ronggo Warsito, atau bias juga melalui jalan Giriliya. Sementara itu dari arah barat bisa bisa dicapai melalui jalan raya Dukuh Kupang. Sementara itu jalan jarak merupakan batas sebelah utara kompleks pelacuran ini (Dolly), dilalui juga oleh kendaraan umum (Bemo). Kendaraan umum ini juga menunjang mobilitas para pelacuran penghuni kompleks pelacuran Dolly, tetapi becak-becak yang mangkal di dalam kompleks tersebut lebih sering digunakan sebahai sarana bepergian mereka.
Data Statistik
Pada dasarnya, tingkat urbanisasi di Surabaya memang sangat tinggi di setiap tahunnya, sehingga tidak mengherankan apabila di kawasan Putat Jaya ini juga menjadi salah satu kawasan padat penduduk. Hal ini dapat diketahui dari data statistic yang dimiliki oleh Kelurahan Putat Jaya.
Jumlah Warga Kelurahan Putat Jaya
Dari data yang dimiliki kelurahan Putat Jaya per Januari 2015 dapat diketahui kepadatan jumlah penduduk, yang bisa dilihat dari table berikut ini :
Tabel 3.1 Jumlah Kependudukan di Kelurahan Putat Jaya
Jumlah Kepala Keluarga
12.907 KK
Jumlah Penduduk Laki-Laki
24.328 Orang
Jumlah Penduduk Perempuan
24.110 Orang
Jumlah Penduduk
48.438 Orang
Sumber : Kelurahan Putat Jaya (Data ditandatangani Januari 2015)
Jumlah Wisma, PSK, dan Mucikari
Dari 15 RW yang terdapat di kelurahan Putat Jaya, tidak semua wilayah Kelurahan Putat Jaya menjadi tempat Prostitusi. Hanya beberapa RT yang termasuk dalam wiliyah 5 RW saja yang termasuk dalam pusat prostitusi yang sering disebut Dolly dan Jarak. Dalam 5 RW tersebut pun tidak semua RT menjadi basis lokalisasi, dalam 1 RW hanya beberapa RT saja yang termasuk dalam lingkup lokalisasi, sisanya hanya rumah tangga biasa. Berikut adalah RW yang termasuk kawasan prostitusi, yaitu :
Tabel 3.2 Jumlah RW yang termasuk sebagai kawasan Prostitusi
RW 3
RT 3, RT 4, RT 5, RT 6, RT 11
RW 6
RT 6
RW 10
RT 1, RT 2, RT 3, RT 4
RW 11
RT 1, RT 2, RT 3, RT 4
RW 12
RT 4, RT 5, RT 6
Sumber : Data statistic pasca deklarasi pembubaran
Dari data di atas dapat diketahui kawasan RT dan RW mana saja yang menjadi kawasan Prostitusi di lingkup Kelurahan Putat Jaya. Berikut ini akan di paparkan jumlah Wisma, PSK, dan Mucikari yang terdapat di kawasan 5 RW tersebut, data diperoleh dari Keseluruhan Putat Jaya.
Tabel 3.3 Jumlah Wisma, PSK dan Mucikari di Lokalisasi Dolly
No.
Keterangan
Lokasi
Banyaknya
1
WISMA
RW 3
63
Jumlah Wisma : 278
RW 6
21
RW 10
70
RW 11
104
RW 12
20
2
PSK
Dolly
558 Orang
Jumlah PSK : 1021
Jarak
463 Orang
3
Mucikari
RW 3
41 Orang
Jumlah Mucikari : 230
RW 6
16 Orang
RW 10
49 Orang
RW 11
104 Orang
RW12
20 Orang
Sumber : Data statistik pasca deklarasi pembubaran (per Juli 2014)
Data pelatihan Pasca Pembubaran Dolly
Pasca pembubaran yang dicanangkan oleh Pemerintah Kota Surabaya, dilaksanakan berbagai macam pelatihan guna memberikan keterampilan kepada warga terdampak agar mereka tidak lagi menggantungkan hidup mareka terhadap keberadaan lokalisasi di kawasan tersebut. Data yang akan dipaparkan berikut adalah data versi Kelurahan Putat Jaya yang juga akan memaparkan mengenai barang-barang yang akan diberikan kepada warga terdampak yang sudah mengikuti pelatihan. Barang-barang yang diberikan agar warga mampu membuka usaha sendiri.
Disebutkan oleh perwakilan dari Kelurahan Putat Jaya, bahwa barang-barang yang diberikan oleh Pemerintah Kota Surabaya berasal dari anggaran APBD yang memang salah dianggarkan sejak muncul rencana pembubaran Lokalisasi Dolly. Memang tidak semua berasal dari Pemerintah Kota, terdapat beberapa pelatihan yang diberikan oleh perusahaan swasta yang telah bekerja sama dengan Pemerintahan Kota misalnya seperti pelatihan menjahit dan membuat bagian atas sepatu.
Berbeda dengan yang disampaikan oleh pihak Kelurahan Putat Jaya, pihak RW yang memang selalu berkomunikasi langsung dengan warga justru mengatakan hal yang berbeda, menurut Ketua RW XI mengatakan bahwa tidak semua warga mendapatkan pelatihan, justru warga diluar Ring lokalisasi dan tidak termasuk terdampak yang mendapatkan pelatihan dan mendapat barang-barang tersebut di atas. Singkatnya, pihak RW mengatakan bahwa program pelatihan yang diadakan oleh Pemerintah Kota Surabaya tidak tepat sasaran.
Aspek Keagamaan
Keberadaan Masjid At-Taubah di kawasan Lokalisasi Dolly seolah-olah menjadi benteng iman bagi warga muslim yang bermukim di kawasan tersebut. Tata letak setiap bangunan sungguh membawa sebuah ironi. Bagaimana tidak, sebuah Masjid berdiri kokoh persis di hadapan wisma. Jarak antara Masjid dan wisma tak lebih dari dua meter. Ketika adzan dikumandangkan, suaranya akan semakin merdu akibat dikompilasikan dengan suara karaoke dari wisma. Tapia da beberapa wisma yang segera mematikan suara karaokenya saat adzan berkumandang. Setidaknya itu yang bisa mereka lakukan untuk menghormati mereka yang lagi beribadah.
Siapa sangka bahwa para PSK Dolly juga terbiasa mengucapkan kalimat Thayyibah. Tidak jarang juga banyak PSK yang saat memasuki wisma mengucapkan “Assalamu’alaikum…” juga saat ditanya terkait berapa tamun yang dilayaninya setiap malam, PSK tersebut menjawab dengan kata “Alhamdulillah…”. Di kawasan Dolly sangat dikenal dengan istilah STMJ (Sholat Tetap Maksiat Jalan).
Aspek Sosial Budaya
Kawasan Dolly memang kerap dikaitkan dengan segala hal negatif. Dolly pada dasarnya merupakan sebuah lokalisasi yang mana lingkungan lokalisasi dan tempat tinggal biasa berbaur secara langsung. Kawasan yang kerap disebut sebagai lokalisasi terbesar ini bersinergi dengan masyarakat setempat, rumah bordil dan rumah tangga biasa berbaur dalam stau lingkungan. Dalam lingkungan yang sedemikian kerasnya anak-anak bebas saja berkeliaran dan bermain diantara perempuan-perempuan bergincu dengan pakaian yang minim dan selalu bertebaran di kawasan tersebut untuk mencari pelanggan.
Dari pagi hingga pagi dengan hari yang sudah berganti, dengan iringan musik koplo yang terus berdentum, anak-anak masih saja berkeliaran di gang-gang dan jalan yang selalu menjadi tempat transaksi seks. Ditempat tersebut bagi orang awam sangat sulit membedakan mana yang rumah tangga biasa dan mana rumah yang dijadikan tempat pemuas hasrat seks, karena keduanya saling bersinergi dikawasan tersebut, sekalipun bagi wisma besar terdapat banner dan berbagai tulisan serta hiasan seperti gambar bir atau banyaknya perempuan berjajar di depan rumah, masih ada juga beberapa rumah yang tidak menulis papan iklan namun di dalamnya juga terdapat praktek prostitusi.
Aspek Ekonomi Dolly
Pantas jika para PSK dan Mucikari betah dengan kondisi mereka saat ini. Juga warga sekitar yang sepertinya juga banyak yang menerima dengan kehadiran lokalisasi di kawasan yang mereka tinggali. Lagi-lagi soal uang sebab mayoritas semua elemen menggantungkan nasibnya dari bisnis berantai yang ada di Dolly. Beberpa bisnis yang ada di sana antara lain wisma, makelar, tukang parkir, jasa laundry, pasar, bir, taksi, kios obat, persewaan kamar kos, hingga warung penjual kopi. Sebenarnya Dolly adalah tempat prostitusi menengah ke bawah. Tarif disini relative murah, jauh berbeda dengan kawasan lain. Setidaknya lelaki hidung belang harus merogoh kocek minimal 300 ribu untuk memuaskan nafsu bejatnya. Rata-rata tarif yang berlaku adalah 500 ribu. Hanya saja, Dolly begitu besar sehingga jika dibandingkan tarif di luar sama tidak ada apa-apanya.
Setidaknya ada 58 Wisma yang beroperasi di Gang Dolly, baik di dalam gang maupun di Jalan Jarak. Tarif disana bervariasi, berikut adalah pendapatan wisma di Blok A dengan asumsi 1 wisma terdapat 10 PSK dan per PSK dalam 1 malam melayani 3 tamu (ini hanyalah hitungan sederhana).
Menguak Misteri di Balik Pembubaran Lokalisasi di Surabaya
Sabtu pagi (13/4) Mahasiswa semester 2 program studi Kominikasi Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi( FDK) Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA) melakukan kuliah lapangan mata kuliah Ilmu Dakwah yang kebetulan bertempat dilokalisasi Dolly. Dengan diikuti oleh seluruh mahasiswa KPI semester dua, bersama dosen tercinta yaitu Prof. Dr. Moh Ali Aziz M.Ag dan kedua asisten dosennya yaitu Ati’ Nur Syafa’ah serta Baiti Rahmawati, yang bertempat di Masjid At-Taubah Kupang Gunung Timur 7b nomor 141 Surabaya, Jawa timur. Dan dihadirkan juga narasumber- narasumber yang hebat serta berpengaruh dalam proses terjadinya penutupan lokalisasi pada tahun 2014 silam, dengan banyak berbagai metode dakwahnya, diantaranya bapak H. Sunarto Shalahuddin yang merupakan CEO dari PT. Berkah Aneka Laut Surabaya, Ustadz KH. Khoiron Syu’aib yang dijuluki kyai prostitusi oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur, Ustazd Dr. Sunarto AS dosen FDK UINSA serta seorang dokter prostitusi, seorang takmir masjid disana yaitu ustadz Abdi Nur Wahab atau yang biasa dipanggil ustadz “petruk”, dan Gatot Subiantoro salah satu penguasa (mantan preman) di kawasan lokalisasi Bangunsari Surabaya.
Ustadz Abdi Nur Wahab (Petruk)
Kegiatan kuliah lapangan di awali dengan sambutan ustadz petruk yang mengenalkan sedikit tentang profil masjid At -Taubah yang berada di tengah-tengah lokalisasi Dolly tersebut. Sebelumnya masjid ini sangat kecil dan dulu namanya mushola AL-Huda pada tahun 1987. Dulunya Al-Huda dan merupakan mushola kecil dengan satu lantai yang bermakna petunjuk. Ia mulai berdakwah pada tahun 1989 tepatnya 17 februari melalui qutbahnya dengan toa masjid. Lalu pada tahun 1990 ia dijadikan sebagai tabib (dukun) oleh warga sekitar lokalisasi, seperti kesurupan, sawanen bagi anak yang terkena penyakit aneh (santet) dan lainnya. Ustadz petruk berdakwah selama 24 tahun dengan menjadi da’i di dinas sosial dan menjadi anggota Ikatan Da’i Eks Area Lokalisasi (IDEAL) MUI Jatim. Metode dakwah yang dilakukan adalah dengan pengobatan non medis.
Dilanjutkan sambutan kedua yaitu Prof. Moh. Ali yang mengungkapkan bahwa dakwah tidak bisa hanya dengan berbicara saja, melainkan juga harus dengan aksi “masjid ini tidak hanya tempat ibadah, tapi juga sebagai penggerak ekonomi mereka. Dakwah itu ndak bisa bil abab tok dan bil cangkem itu ndak iso” cetus Prof. Moh. Ali dengan senyum kecil.
H. Sunarto Shalahuddin
Singkat penjelasan dari Prof. Moh. Ali dilanjutkan sambutan dari seorang CEO PT Berkah Aneka Laut (PT. BAL) Surabaya, perjalanan beliau dimulai ketika ia masih muda, dengan prinsip yang dipegangnya yaitu kejujuran dalam melakukan pekerjaan. Pria asal gresik ini melawati hiruk pikuk kota metropolitan mulai dari berjualan kue sampai akhirnya ia menjadi pengusaha besar seperti sekarang ini “kejujuran modal utama untuk meraih kesuksesan,” ungkap Pak Sunarto. Di Surabaya ia mulai merintis karir pertama ia menjadi pelayan disebuah rumah makan. Lalu bekerja bersama pamannya dengan penuh kesungguhan dan dengan prinsip “ halal dan jujur”. Singkat cerita dari perjalanan hidup beliau penuh batu terjal, namun dengan penuh semangat, kerja keras dan munajat. Kini bapak Sunarto S telah sukses sebagai pengusaha dan mendirikan PT. BAL yang kini sudah memiliki 50 kapal penangkap ikan dan sedang mendirikan cod storage di Probolinggo yang hampir selesai dan sudah beroperasi 3 unit dari 6 unit yang direncanakan dengan kapatisas 6 ribu ton ikan segar.
Ustazd Dr. Sunarto AS
Tak hanya kedua tokoh tersebut yang andil dalam penutupan prostitusi, termasuk juga bapak Sunaro AS yang profilnya telah disebutkan diatas juga merupakan sosok da’i yang mengikuti alur penutupan dolly tersebut. Ia merupakan doktor prostitusi dalam dakwahnya beliau menggunakan 3 metode yaitu: persuasif, integratif dan solutif. Ia juga menyampaikan bahwa dakwah yang digunakannya ialah mengajak dan merubah dari perkara yang buruk (keji) menjadi perkara yang baik (kebajikan). Selain itu, bapak sunarto juga menceritakan awal mula ia berdakwah didunia prostitusi pada tahun 80-an saat ia lulus dari sebuah pondok pesantren. Yang berkeinginan merubah lokalisasi ini menjadi tempat yang baik. Ia mengawali dakwah pertamanya secara individu yang bertempat di balai RW, gedung bioskop yang dihadiri kurang lebih 200-300 WTS. Namun hasil yang didapatkan dari dakwah itu kurang maksimal dan optimal. Langkah berikutnya ia membentuk kelompok dan kerjasama yang merupakan dakwah secara kelembagaan dan membentuk wadah yang bernama FORKEMAS pada tahun 2002. Dimulai dari sinilah akhirnya dakwah mulai tersebar luaskan, dengan membawa para WTS ke balai binaan di asrama haji yang tiap satu lokalisasi hanya 20 orang yang mewakili. Kembali pada metode dakwah yang ia gunakan yaitu persuasif yang berati melakukan pendekatan pada WTS yang merasa hina agar mereka merasa tidak hina lagi artinya ia merangkul para WTS itu agar menjadi manusia mulia, yang kedua adalah metode itegratif yang berarti menyeluruh dengan sentuhan mental dan spiritual, selain itu juga solutif yang berati selain ia mengajak, menyuruh,merubah ia memberikan solusi terhadap kejadian tersebut.yaitu dengan cara memberikan wadah dan pelatihan bakat minat kepada si WTS. Seperti pelatihan menjahit, membuat sandal, merias, memasak dan berjualan.
KH. Khoiron Syu’aib
Dilanjutkan oleh kyai yang keempat yaitu ustadz Khoiron ia menyebutkan bahwa dalam tatanan masyarakat di Dolly ada 4 yaitu: PSK atau WTS, kerena hal ini dianggap barang dagangan oleh para mucikari atau germo. Yang kedua mucikari, dalam hal ini ia bercanda dengan arti germo yaitu “seneng mangan seger, nyambut gawe emoh” maksudnya suka makan segar/enak, namun untuk bekerja keras tidak mau. Taktik yang dilakukan oleh mucikari ini pertama menjadikan si PSK menjadi seorang clenning service, pelayanan minuman. Lalu si korban ditawari uang yang nominalnya cukup besar dan kemudian si PSK ini merasa punya hutang lalu membayarnya dengan cara menyerahkan dirinya pada mucikari tersebut. Hal ini berjalan cukup lama selama PSK ini masih muda atau masih segar hingga ia sudah expired atau tidak layak lagi untuk diperjualkan lalu dikembalikan pulang ke kampung. Selanjutnya yang berperan dalam dunia lokalisasi yang ketiga adalah tokoh-tokoh disekitarnya, baikformal maupun non formal. Tokoh formal seperti ketua RW. RW memiliki peran yang cukup besar karena ia memiliki jabatan yang tinggi dikampungnya ia dianut dan dipercaya oleh para wargannya. Selain formal ada juga faktor non formal seperti preman yang menguasai daerah lokalisasi, karena preman ini selalu menjamu tamu dan memilah-milahkan PSK yang akan disewa. Selanjutnya yang ke empat adalah para masyarakat yang baik namun ada di lokalisasi yang merasa di untungkan. Contohnya penjual ditoko, tukang parkir,dan tukang jahit. Jika lokalisasi ditutup maka ia akan merasa rugi.
Narasumber terakhir yaitu bapak Gatot Subiantoro, beliau mulai mengawali dakwahnya yaitu seorang mantan preman di lokalisasi Dolly, sekarang merupakan humas di MUI jatim dan merupakan tokoh penting saat penutupan Dolly. Ia bercerita sedikit tentang dolly yang mana saat itu Dolly sangat berkembang pesat, ia ikut andil dalam dunia ini, selain itu ia memberikan beberapa motivasi kepada mahasiswa salah satunya “ kekayaan tak ada habisnya, miskin tak ada habisnya, namun umur ada habisnya.” pria paruhbaya ini menambahkan bahwa jalan dakwah tidak hanya melalui masjid-masjid saja melainkan di samping kanan kiri rumah kita masih butuh pengetahuan tentang agama. Motivasi ia berhijrah ke jalan yang lebih baik adalah karena mendapatkan dorongan mental dari para ustadz yang tidak ada paksaan dari ustadz itu. Pak gatot hanya seorang yang dtunjuk untuk menjadi panitia dalam acara Idul Adha dan ketua acara 17 agustusan. Dan suatu ketika ia diajak ke masjid untuk sholat jum’at lalu ia meneteskan air mata, dari situlah ia sadar bahwa selama ini yang ia lakukan adalah perbuatan hina (keji) dari situlah ia mulai tobat memperbaiki diri.menjadikan ia sebagai anggota IDEAL lalu dihajikan oleh MUI juga. Dan turut serta membantu penutupan Dolly dengan langsung terjun ke lapangan.
Sudah banyak dijelaskan mengenai sejarah dan orang-orang berpengaruh didalam penutupan lokalisasi Dolly yang bertempat di Kupang Gunung Timur. Dan banyak sekali hikmah dan pelajaran yang bisa kita ambil dari cerita dan kisah tersebut. Lokalisasi ini akhirnya berhasil ditutup oleh seorang walikota Surabaya yaitu Tri Risma Harini seorang yang berhasil menutup lokalisasi merupakan sosok wanita yang gagah dan berani dan mempunyai alasan kuat dalam penutapan Dolly ini.
Setelah dilakukannya kuliah lapangan ini terdapat hikmah yang dapat dipelajari, motivasi untuk hidup menjadi lebih baik dan menuju jalan yang lebih benar, berikut beberpa hikmah/ pesan setelah mengikuti kuliah lapangan yaitu :
Dengan adanya tekad dan niat yang kuat, segala sesuatu yang terasa berat akan menjadi ringan jika dilakukan dengan ikhlas.
Sebagai mahasiswa jurusan Dakwah dan Komunikasi merupakan bentuk salah satu pembekalan yang sangat bermanfaat untuk melanjutkan berdakwah dengan mengetahui situasi, kondisi, mitra yang akan diberikan ceramah.
Berdakwah tidak hanya menyuruh, mengajak dan berseru tetapi juga memberi solusi pada ceramah yang telah kita berikan.
Dakwah tidak hanya dilakukan dimasjid-masjid melainkan juga dalam diri kita sendiri yang artinya kita tidak bisa mendakwahi seorang jika sikap kita masih belum seperti yang akan kita sampaikan dalam berdakwah.
Berdakwah tidak hanya dengan ucapan atau perkataan melainkan dengan memberi contoh atau pedoman yang baik
No comments:
Post a Comment